Senin, 11 April 2011

Gua Pamona

JIKA mengunjungi Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), sempatkanlah singgah ke Gua Pamona. Gua tersebut terletak persis di sebelah Danau Poso, kawasan yang sudah terkenal keindahannya sehingga telah menjadi salah satu tujuan wisata mistis dan unik karena letak sebagian danau tersebut berada di bawah Danau Poso.
Gua yang namanya sama dengan suku asli orang Poso tersebut terletak
di Desa Sangele, Kecamatan Pamona Utara, 56 kilometer dari Kota Poso.
Mulut Gua Pamona menghadap ke selatan dengan lebar dua meter. Sebagian jalan di gua tersebut memiliki ketinggian kurang dari satu meter, sehingga memaksa pengunjungnya untuk berjalan sambil berjongkok.
Gua sepanjang sekitar 200 meter tersebut memiliki kedalaman 80 meter.
Dulunya, gua tersebut memiliki panjang lebih dari 200 meter. Karena perubahan kondisi alam dan adanya beberapa reruntuhan, akhirnya panjangnya hanya sebatas itu.
Letak gua yang dalam menyebabkan oksigen di dalamnya relatif sedikit. Hal itu membuat pengunjung merasa gerah dan cepat lelah saat menyusuri jalan dalam gua. Pencahayaan di gua tersebut juga sangat minim, hanya mengandalkan cahaya matahari yang berasal dari celah-celah bebatuan di atasnya. Suasana di dalam menjadi remang-remang dan menambah miris orang yang percaya pada cerita mistis.
Menurut cerita masyarakat setempat, selama ratusan tahun silam gua tersebut berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan jenazah raja atau kaum bangsawan suku Pamona dan keluarganya. Hal itu dapat dibuktikan
dengan adanya kerangka manusia dan keranda yang masih ada di dalamnya. Banyak warga setempat meyakini gua tersebut merupakan salah satu tempat asal-usul leluhur mereka. Sampai kini gua tersebut banyak dikunjungi masyarakat dari luar Poso, terutama pada akhir pekan atau hari libur.
Setelah puas menyusuri gua tersebut, biasanya pengunjung menyempatkan untuk mandi di Danau Poso yang airnya selalu jernih.
Dalam gua tersebut juga terdapat delapan kamar atau ruang yang sangat gelap dan lembap. Ruang tersebut dahulunya berfungsi menyimpan jenazah suku Pamona yang disesuaikan dengan status sosialnya.
Jenazah yang disemayamkan tersebut biasanya disertai perangkat kubur, seperti pakaian atau barang-barang berharga milik jenazah semasa hidupnya. Namun seiring banyaknya pengunjung, tidak jarang ada yang usil dengan mengambil kerangka atau bagian goa yang sangat tinggi nilai
sejarahnya itu.
Pemerintah setempat juga telah menetapkan gua tersebut sebagai situs
sejarah yang dilindungi, selain beberapa gua lain, seperti Gua Tangkaboba dan Gua Latea. Kepala Bagian Infokom Kabupaten Poso Amir Kiat mengatakan keberadaan gua tersebut menjadi salah satu paket kunjungan wisata yang menarik bersama Danau Poso. “Setelah mengunjungi Danau Poso, kalau tidak mengunjungi Gua Pamona rasanya kurang lengkap,” ujarnya.
Di sekitar lokasi wisata tersebut juga terdapat penginapan untuk memanjakan wisatawan.  Selain itu, terdapat beberapa rumah makan yang menyediakan menu khas Tentena, seperti ikan sogili atau sidat. Sogili merupakan ikan endemik di Danau Poso yang bentuknya mirip ikan lele. Sogili dapat dimasak dengan berbagai cara seperti direbus, dibakar atau digoreng. Tapi masyarakat setempat biasanya lebih menyukai sogili bakar. Rasanya sangat gurih dan dagingnya kesat.
Amir Kiat mengatakan pemda setempat telah menyiapkan acara khusus di
sekitar Danau Poso dan Gua Pamona pada Agustus untuk mengisi Tahun
Kunjungan Wisata Indonesia 2008. Pada Agustus 2008, terdapat Festival Danau Poso yang merupakan ajang pertunjukan budaya dari seluruh daerah di Sulawesi Tengah ***


  Gua Latea merupakan gua yang dijadikan tempat penguburan orang-orang zaman dahulu seperti halnya kuburan batu di Toraja. Gua ini merupakan pekububuran leluhur suku pamona  yang berasal dari bukit wawolembo. Namun, tidak seperti halnya di Toraja, di gua ini hanya ditemukan beberapa tengkorak dan tulang belulang saja.
Sistem penguburan seperti ini bagi masyarakat pamona diperkirakan berakhir sekitar abad ke 19 dimana saat itu misonaris-misionaris gereja sudah mulai memasuki wilayah-wilayah suku pamona. Situs ini dipugar tanggal 2 Juni-30 November 1994 oleh ditjen kebudayaan departemen pendidikan dan kebudayaan provinsi Sulawesi tengah. Pada awal penemeuan situs ini, ditemukan empat pasang peti mati dan 36 buah tengkorak. Gua latea sendiri merupakan gua kapur yang usianya diperkirakan sekitar 30 juta tahun.
Lokasi goa ini tidak sulit dijangkau, dari terminal tentena dapat menggunakan ojek ataupun bisa dengan berjalan kaki. di pinggir jalan ke arah pasar tentena akan ada tulisan lokasi gua latea, dari papan informasi tersebut berjalan kaki sekitar 700 meter melewati perkebunan cokelat dan perkebunan cengkeh.kebetulan saat kami menuju goa latea kami menemukan warga yag tengah memanen cengkeh. Sebenarnya perjalanan menuju goa latea sangat menyenangkan karena di sepanjang jalan kita akan melewati kebun cokelat milik warga, pohon cengkeh, dan juga sungai yang masih bersih. Namun sayang, kurangnya informasi tentang gua membuat masyarakat awam tidak mengetahui keberadaaan goa latea ini. Padahal jika informasi diterus disiarkan dan pengelolaan situs ini juga terus diperbaiki maka bisa jadi gua ini bisa dikenal seperti tempat wisata yang ada di sekitarnya yaitu danau poso.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar