Senin, 11 April 2011

jembatan IV Palu Sulteng

JEMBATAN IV


Jembatan palu 4 merupakan sebuah jembatan yang terletak di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Jembatan ini diresmikan pada Mei 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan ini membentang di atas Teluk Talise ini berada di kelurahan Besusu dan Lere, yang menghubungkan kecamatan Palu Timur dan Palu Barat. Jembatan kuning ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Perancis.
kini jembatan kembali dibenah. Semua lampu jembatan yang rusak diperbaiki dan diganti yang menelan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kini, lampu Jembatan Palu IV kembali bersinar, menambah semakin indahnya pemandangan di malam hari di atas muara sungai Palu. Perbaikan lampu jembatan, sebenarnya tidak perlu terjadi bila oknum-oknum masyarakat kota Palu sadar pentingnya menjaga dan memelihara aset kota. Jembatan Palu IV kini telah menjadi icon keindahan kota Palu.
Bagi masyarakat yang bermukim di Palu, keberadaan Jembatan Palu IV mungkin dinilai biasa saja, mengingat dilintasi dan dilihat setiap hari. Tetapi, bagi mereka yang sesekali menginjakkan kaki di kota Palu, jembatan Palu IV adalah sebuah posisi yang menggambarkan Palu dalam matra tiga dimensi. Kota pegunungan, kota laut, dan juga kota lembah. Sangat jarang kota-kota lain di Indonesia seindah ini posisi ibukota provinsinya. Memang sangat disayangkan, sebab fasilitas umum yang kita miliki tidak dijaga dan tidak dirawat. Bahkan tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, justru cenderung melakukan pengrusakan.
Untuk keamanan aset kota yang juga sebagai objek wisata, pihak Polisi Pamong Praja harus diberi tugas secara bergantian, di samping polisi negara. Bagi mereka yang ketangkap tangan melakukan pengrusakan agar diproses secara hukum, terlepas mungkin akan ada masyarakat yang melakukan tindakan main hakim sendiri. Cara demikian tidak dibenarkan, walaupun dipahami bila akhirnya ada pelaku yang tertangkap tangan. Mereka, yang mestinya menjaga keindahan dan aset kotanya, justru harus menjadi pelaku tindak pidana pengrusakan. Sungguh sangat menyedihkan masih adanya oknum-oknum seperti itu.
Perbaikan lampu jembatan IV tidak harus terjadi. Bahkan dana sebesar itu dapat diperuntukkan untuk keperluan lain. Tetapi sayang, sebab Palu yang masih termasuk kota kecil masih ditengarai ada warganya yang tidak merasa memiliki. Mereka sangat tega melakukan pengrusakan di saat kehadiran Jembatan Palu IV mampu mengangkat citra pariwisata kota Palu. Sudah saatnya pihak Pemkot memperlihatkan kemampuannya dalam menjaga aset kota, khususnya lampu jembatan yang harganya tergolong mahal. Sat Pol PP yang selama ini terkesan hanya hebat dalam penggusuran pedagang kaki lima (K-5), saatnya dimaksimalkan dalam peran-peran pengamanan aset, termasuk dalam menjaga keamanan Jembatan Palu IV.
Kita berharap dengan adanya perbaikan tersebut, ke depan tidak ada lagi tangan-tangan jahil yang berpeluang melakukan perbuatan yang sangat memalukan. Seluruh warga Palu harus bangga dengan keberadaan Jembatan Palu IV sehingga sangat memprihatinkan bila aset semahal dan seindah itu masih dirusak oleh mereka yang tidak merasa sebagai warga masyarakat Kota Palu. Memerangi oknum yang melakukan perbuatan pengrusakan sarana umum, merupakan tugas dan tanggung jawab kita semua. Bila akhirnya masih ada pengrusakan lampu Jembatan IV ke depan, maka ini menjadi indikator bila Pemkot tidak menyeriusi pengamanan dan penjagaan Jembatan Palu IV yang sama-sama kita banggakan. Bila perlu, sistem penjagaan secara shift harus diatur oleh pihak Pol PP demi keamanan dan keselamatan lampu Jembatan Palu IV.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar